Sedang Merindukan Kunang-kunang

Saya pernah tinggal di jaman listrik belum menerangi kampung. Waktu itu, rumah-rumah hanya berpenerangan dian (tinthir), lampu teplok dan bagi yang ekonominya mapan pakai petromaks (orang-orang di kampung saya jamak menyebutnya sebagai strongking). Semuanya berbahan bakar minyak tanah. Sementara kala bepergian malam, penerangnya adalah oncor dari bambu dan senter merk Tiger Head made in China bertenaga batere ABC atau Eveready. Keduanya tak terpakai bila langit cerah dan bulan sedang purnama.
Kampung yang nirlistrik juga berimbas pada kepemilikan televisi. Hanya satu dua orang dengan ekonomi mapan saja yang memilikinya. Televisinya hitam-putih, merk Sharp dan bertenaga aki yang sewaktu-waktu mesti disetrum. Saya masih ingat, tiap malam minggu, hari minggu dan saat Ellyas Pical tanding, rumah si empunya televisi mejadi tempat nonton bareng. Tak jarang, televisi pindah ke teras rumah saking membludaknya penonton. Tapi, alangkah menggerutunya orang-orang yang akan menonton bila si empunya televisi berkata, "Akinya habis."
He'eh, waktu itu televisi memang hiburan paling luks. Selebihnya, orang-orang di kampung saya cuma menggelar tikar di halaman, lesehan dan jagongan sambil sesekali melihat kerlip angkasa dan kunang-kunang. Dan ketika purnama, pemuda-pemuda kampung merayakan malam dengan main gobak sodor di jalan yang tak semulus sekarang.
Merindukan Kunang-kunang
Ngomongin kunang-kunang, waktu itu sungguh ramai berseliweran. Begitu malam turun, makhluk-makhluk mini bercahaya emas itu keluar sarang, menyihir mata bocah-bocah, bahkan tak malu mengerjap-ngerjap dalam rumah. Sayangnya, tak satu pun yang berani mengejar dan menangkap lantaran termakan mitos "kuku orang mati." Mitos yang sebenarnya tercipta akibat para orang tua khawatir anak-anaknya jadi mangsa culik Tak Lentong (Wewe Gombel).
Sekarang ... Duh, saya sangat-sangat sulit menemukan kedip liar kunang-kunang lagi. Mereka raib entah ke mana, kadang menerbitkan rindu dalam kalbu. Pun saya takut nanti anak saya cuma hafal teori tentang kunang-kunang, tapi sama sekali tak tahu bentuk kongkritnya seperti apa. Mungkin kelak saya mesti mengeluarkan ongkos untuk membawa anak saya ke pedalaman Papua dan belantara Borneo─yang makin gundul─demi memperlihatkan kunang-kunang.
Saya jadi penasaran, kenapa tho kunang-kunang jadi langka banget di kampung saya. Saya pun googling-googling untuk mencari penyebabnya. Menurut beberapa situs, tak ada yang tahu pasti penyebabnya. Mereka cuma memperkirakan bahwa penyebab kelangkaan kunang-kunang adalah:
Pembangunan
Spesies kunang-kunang tinggal di ladang, hutan, rawa-rawa dan tepian lingkungan air. Masalahnya, tempat-tempat semacam itu sekarang dimanfaatkan untuk pembangunan jalan, perumahan dan industri. Perambahan dan penggunaan pestisida juga menghancurkan habitat kunang-kunang
Polusi Cahaya
Kunang-kunang, jantan dan betina, menggunakan kedipan lampu mereka untuk komunikasi; menarik pasangan, mempertahankan wilayah mereka dan memperingatkan adanya predator. Nah, polusi cahaya manusia diyakini mengganggu pola cahaya mereka. Cahaya listrik dari rumah, mobil, toko dan lampu jalan menyulitkan kunang-kunang untuk mengeluarkan sinyal perkawinan. Ini berarti jumlah larva kunang-kunang sangat sedikit
Dua-duanya terjadi di kampung saya. Lampu nyala di sana-sini, pohon-pohon rindang dan belukar di sudut-sudut tegalan dibabat habis. Cuaca yang dari sononya sudah panas, jadi tambah panas saja. Sejauh mata memandang tanah merah membentang, kerontang. Mungkin semua itu biang kerok kenapa kunang-kunang malas menyambangi kampung saya.
Nah, bagi sampeyan yang kampung atau malah kotanya masih ramai kunang-kunang, nikmatilah. Jangan lupa mengajak anak-cucu, sebelum kunang-kunang masuk urutan teratas IUCN Red List. Dan percayalah, makhluk sesepele dan sekecil kunang-kunang pun suatu saat akan membuat kangen kalau mereka sudah musnah. Kata Bung Haji Oma Irama, "kalau sudah tiada, baru terasa."
Pungkasan, saya ingin menyelipkan lirik lagu Kunang-kunang karya A.T Mahmud. Sampeyan mau menyanyikannya sambil keplok-keplok juga boleh.
Kunang-kunang, hendak ke mana
Kelap-kelip indah sekali
Gemerlap, bersinar
Seperti bintang di malam hari
Kunang-kunang, terbang ke sini
Ke tempatku singgah dahulu
Kemari, kemari
Hinggaplah di telapak tanganku

4 komentar:

  1. Alhamdulillah kang di kampung saya masih banyak kunang-kunang kang, jadi saya masih bisa melihat kunang2 kang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, menyenangkan tentunya, mas Iman, masih bisa menikmati salah satu maha karya Gusti Allah

      Hapus
  2. tempat saya masih ada kunang-kunang. dibelakang rumah. masih ada kerlap kerlip

    BalasHapus
    Balasan
    1. joss, mas,,, iklimnya masih sobatan

      Hapus